Goresan pena umy. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Aku Sahabatmu yang Mencintaimu


                  Bubar.......!!
Aku memandang Rehan bingung. Rehan hanya mengangkat bahu tanpa mendengarkan duduk persoalannya. Dia membanting tubuhnya dengan lemas di atas tempat tidurku dan kemudian meraih foto yang baru ku pajang di atas meja belajar ku.
“Sepertinya cewek ini bukan anak kelas kita.” katanya
“Anak sebelas IA kan?” tambahnya
“Liana.” aku mengangguk
Rehan mengamati wajah cewek dalam foto itu lebih seksama.
“Rasanya hampir di setiap pajang foto ada wajahnya.
Dia sudah ada cowoknya?”
“Belum,” jawab ku agak ragu
“Dia sering ke sini?”
“Cuma beberapa kali.”
“Betul dia masih jomblo, Anin?” tanya Rehan sungguh2 ingin tahu.
Aku sudah bisa menebak arah pertanyaannya. Karena itu aku mengangguk ogah-ogahan.
Beberapa bulan belakangan ini aku sering mendengar nama Rehan disebut dimana-mana. Banyak cewek yang suka mengukir luka di hatinya. Kabar terakhir ku dengar Rehan putus dengan Vera.
Tapi sebelumnya itu berderet cewek cantik telah memacarinya. Cewek2 itu memacarinya tak lebih karena harta yang dimiiki Rehan. Ketika dia diputusin Siska, aku sempat bertengkar dengannya.
“Kau berusaha menutup mata dan telinga,

LOVE 7
mema’afkan semua salahnya lalu meninggalkan kamu begitu
aja? Juga cewek2 yang lain itu?”, aku berusaha menentangnya ketika ku dengar Vera mulai PeDeKaTe sama Rehan.
“Percayalah, aku tidak sakit hati karena mereka. Itu semua atas kesepakatan bersama,” itu alasannya selalu. Tapi aku tak pernah membenarkannya.
“Tidak! Vera bukan tipe cewek materai seperti yang kamu pikirkan”. katanya kala itu.
Dan ternyata tebakanku tak salah lagi. Tak lebih karena uang Vera mau jalan bareng Rehan. Buktinya, barusan Rehan menceritakan bubarnya hubungan cinta mereka. Karena barangkali Vera sudah kenyang dengan uang Rehan dan minta untuk diputusin begitu aja, tanpa ada alasan yang jelas.
“ Sungguh Liana tidak ada cowoknya?” tanyanya.
Aku bangun, kemudian ku raih foto itu dan meletakkannya kembali di atas meja belajar ku.
“Iya, tapi jangan ambil foto itu. Aku Cuma ada satu!”
“Kamu mau tolong aku enggak Nin?” Rehan beranjak dari tempat tidur ku dan mendekati pintu kamar, “kenalin donk aku sama dia, Liana?!”.
Ternyata tebakanku tepat pada sasaran, kesitu juga kan maksud arah pertanyaannya.
“Kamu enggak lagi bercanda kan Re??”
Rehan tetap membelakangiku sambil berpegangan pada bingkai pintu di sampingnya.
“Kamu enggak mau..........???”
“Betul2 hebat kamu Re! Belum sampai kering sakit lukamu karena Vera, kamu udah ingin..............”
“Tak ada salahnya bukan?”.
“Aku hanya minta, tolong jangan Liana!”
“Kenapa emangnya?’
“Re, Liana itu temenku sejak SMP. Aku tahu betul gimana dan siapa dia yang sejatinya. Sejumlah cowok kaya di sekolah hartanya habis diporotin olehnya. Dia tidak pantas nerima cinta yang suci, tulus darimu Re!” jelasku panjang lebar.
“Aku hanya tak ingin lagi ada goresan luka di hatimu karena cinta.”
Rehan sama sekali tidak tersinggung kata2 ku, aku pikir dia akan marah dan mengataiku sok tahu. Tapi ternyata......??
“Baiklah, akan aku buktikan kalo dia bukan tipe cewek seperti yang kamu maksudkan.”
Katanya sebelum dia keluar meninggalkan pintu yang sedari tadi dibuatnya sandaran.
*      *      *
Rehan adalah teman dekatku. Ia sangat terbuka, dengan semua masalah yang sering dihadapinya, diceritakanya padaku. Tentang keluarganya yangb sibuk mondar-mandir keluar negeri. Atau kesepiannya hidup sebagai anak semata wayang. Dan aku dengan sebisaku membantu menghiburnya. Rumahnya persis di depan rumahku. Menjadikan ia mudah menemuiku ketika suatu masalah melilit pikirannya. Kapanpun waktunya.
Dan keakrabanpun semakin terjalin erat antara kita. Keluargaku juga menyayanginya sama seperti mereka menyayangiku.
Tak jarang Rehan meminta kakakku, Frans. Untuk menginap di rumahnya. Karena kesendiriannya yang hampir setiap hari ortunya tak pernah ada di rumah.
 Rehan termasuk tipe cowok yang sempurna bagi kebanyakan cewek. Dengan paras yang tergolong handsame ditunjang dengan ketajirannya yang wah........?!!
Namun satu kebiasaannya yang tak aku sukai. Yaitu karena gampang jatuh cinta ia mudah dipermainkan cewek. Kali ini giliran Liana?
Entah mengapa aku ngerasa ingin sekali menentangnya. Aku tak ingin Rehan disakiti Liana.
*      *      *
Lima hari ini aku menjabat sebagai Mak Comblang untuk Rehan dan Liana adalah targetnya. Berbagai cara telah aku lakukan demi kesuksesan misi ini. Mulai dari mengintai target, PeDeKaTe, sampai menjadwal kapan mereka harus ketemuan.
Di hari ke enam aku behasil menyatukan mereka. Sejak saat itu Liana resmi menyandang predikat sebagai pacar Rehan yang baru. Entah mengapa aku merasa diriku ini bodoh. Dalam hati ku kutuk diriku habis-habisan.
Satu bulan berlalu sejak mereka resmi pacaran, Rehan semakin jarang main ke rumah. Bahkan aku tak lagi pernah ke sekolah bersama dengannya. Tiap pagi ku lihat mobilnya sudah tak ada di garasi. Di kelaspun aku tak bisa selalu bersama-sama dengannya seperti dulu.
Aku menduga ini berkaitan dengan Liana pacar barunya itu. Selayaknya kebanyakan pasangan, menjemput pacar tiap pagi, mengantarnya pulang dan di samping dia menemaninya selalu.
“Kak Frans tahu kenapa Rehan jarang ke rumah?” tanyaku pagi itu sepulang kak Frans dari rumah Rehan.
“Belakangan ini kakak sibuk belajar. Jadi kakak enggak tahu, kenapa emangnya?”
“Nnggak. Enggak ada apa-apa.” jawabku cepat
Malam ini purnama bersinar penuh. Bintang-bintang bertaburan memenuhi luasnya langit malam. Ku sandarkan diriku di samping jendela kamar. Keingintahuan ku akan Rehan, membawa mataku menerobos celah-celah kaca jendela. Dan.......ku dapati Rehan tengah membukakan pintu mobil, jelas terlihat Liana nampak keluar dari sana. Rehan merangkul Liana mesra banget.
Keduanya nampak amat serasi sebagai pasangan.
Tanpa ku sadari titik-titik air mata berderai membasahi di pipi. Tak ingin terlihat oleh Rehan, lalu segera ku palingkan wajahku, membelakangi kaca jendela.
Keesokan harinya, Rehan berkunjung ke rumah bersama Liana ceweknya. Mereka berniat mengajak aku dan kak Frans untuk berlibur ke pantai bersama. Awalnya aku menolak, tapi kak Frans memaksa , sampai akhirnya aku menyetujui ajakan mereka.
“Ini saatnya untuk aku membuktikan diri, bahwa di hatiku tak ada rasa pada Re.” Gumam dalam hatiku
Dalam mobil, kala ku lihat Rehan dan Liana begitu dekat. Entah kenapa terasa sakit di hatiku. Tanpa sepatah kata menyapa Rehan, sepanjang jalan binrku terasa tak bisa digerakkan.
Jujur adanya kadang iri melintasi benakku pada Liana, berkhayal ada di posisinya sekarang. Salahkahku sendiri kenapa tak berterus terang sejak dulu tentang perasaanku pada Rehan. Nah, apa salah Liana, bila kini Rehan berhasil digaetnya? Hatiku mengutuk satu-satu pada diri ini habis-habisan.
Tak kuasa ku menahan sakit yang mengiris perih. Akan kemesraan Rehan dengan Liana yang menyilaukan mata. Aku terus memaksa mereka untuk segera pulang. Walau kali pertama mereka tidak menggubris rengehanku, terus saja aku merengeh. Sehingga bosan mereka mendengarnya. Dan akhirnya keinginanku mereka iyakan.
Setibanya di rumah tanpa menghiraukan tanya mama papa, aku langsung berlari ke kamar. Ku rebahkan kekesalanku, membantingkan tubuhku di ranjang. Ku tuangkan semua sakitku karena Rehan, tanpa terasa gulingku penuh dibasahi oleh sendu air mataku.
Aku sahabatmu
Yang dengan tulus mencintaimu
Rangkaian nada-nada mellow by Cindy mengalun di telingaku mengiringi tiap tetes air mataku. Dan tengkurap, ku pandangi fotoku bersama Rehan.
“Masih adakah untuk ku merasakan indahnya kebersamaan kita di waktu dulu, Re???” ku usap titik-titik air mata di atas kaca frame satu-satu, seakan kenanganku ikut terbawa sendu.
“Aniiiiiinn….....!!!”
Aku beranjak dari ranjang seketika , berlari menuju jendela. Ku telusuri tiap-tiap celah udara, mencari arah sumber suara itu muncul.
Rasanya tak percaya. Satu meter pas di depan jendela kamarku. Seorang cowok tinggi berjaket levis sedang berdiri membelakangiku.
“Rehan!!” teriakku membalikkan tubuh cowok itu menghadap ke arahku.
Ya! Benar dia Rehan.
Rehan, cowok yang selama ini aku cintai. Dia membuka tangannya, mengharap pelukan dariku. Tanpa berkata aku tahu sorot matanya memanggil-manggil namaku. Segera lalu aku berlari menyambutnya keluar, diikuti mama papa dan kak Frans.
Di depan Rehan aku hanya terdiam membisu menatap bola matanya yang begitu dalam menusuk jantungku. Dan tanpa bicara aku mendekap pelukannya. Di balik pundaknya ku tuntaskan semua tangis lara dukaku.
“Aku sayang kamu Nin….......” ujar Rehan
“Aku juga sayang kamu….....” balas Anin mengisak-isak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar